Merantau dan Beberapa Cara Yang Bisa Mengubah Pola Pikir Kita.

Beberapa hari terakhir ini di twitter muncul beberapa tweet yang sampai di timeline gue yang akhirnya men-trigger gue untuk ingin membagikan thought gue lewat tulisan ini, yaitu berkaitan dengan kurangnya moral / tata krama / etika sebagian orang Indonesia. Tentu saja disclaimer sebelumnya kalau pandangan yang gue tuliskan disini ini subjektif, dan memang dari yang gue alami sendiri atau memang gue pelajari dari berbagai referensi.


Jadi gue kasih konteks yang jelas dulu twit yang mana yang trigger gue, yang pertama adalah ketika dimana seseorang ini bilang terima kasih kepada satpam yg nyebrangin dia terus di bilang ‘kampungan’ (yang ternyata gue baru tau yang ngetwit ini adalah Putri dari Sultan HB :D).

Dan dari situ ada beberapa reaksi tentunya dan beberapa orang akhirnya membagikan banyak cerita versi mereka sendiri. Twit lain (sebenarnya hasil screenshot dari instagram salah suatu bioskop) dimana yaitu ajakan untuk membuang sampah mereka sendiri setelah selesai menonton, dan para netizen maha benar ini nyinyir kalau itu sudah tugas petugas kebersihan. sigh.

Ini lah yang kenapa akhirnya somehow relate karena ini jadi keresahan gue juga setelah kemarin sempet kembali ke tanah air dan melihat dan merasakan sendiri hal-hal tersebut yang jadi omongan.

Ok, gue mulai dari mana ya?

Yang menggelikan sebenarnya adalah masalah petugas kebersihan tadi, sangat sedih melihat masih ada orang yang berpikiran bahwa “yaudah itu udah jadi tugas mereka, mereka di gaji untuk itu ngapain lagi gue harus bantu mereka”. It’s called empathy my friends! Lucunya lagi sampai ada yang bilang “GUE UDAH BELI MAHAL-MAHAL TERSERAH GUE MAU GUE HAMBURKAN KEMANA”, ya allah :facepalm:. Ada juga ini gue pernah lihat, ada yang bawa sate padang dari luar terus sampahnya juga gak dibuang. Gila memang orang-orang ini sih. Padahal, apa susahnya sih untuk melakukan itu?

Padahal dari kecil kita diajarin lho dalam agama, “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”, berarti orang-orang ini ga beriman dong? :))

NETIZEN TERBAIK INDONESIA

Tapi gue mencoba berpikir positif “ah mungkin ga semua orang gitu”, tapi gue ngeliat sendiri ketika kemarin nonton di salah satu mall dari satu studio ga ada sama sekali yang bawa sampahnya keluar, hanya gue (bukan mau sombong tapi ini beneran sumpah). Ada juga lagi di waktu itu, ketika gue makan di McDonalds lalu gue buang sampah makanan gue sendiri, dan itu gue diliatin sama beberapa orang disana. -_-

Kalo ngomongin habit orang di bioskop di Indonesia tuh, aduh gue ga mau mulai deh. Ada satu kali gue nonton di bioskop, lalu cewek di seat depan gue ini literally belanja online ketika film lagi mulai. Gue bener-bener gatel mau nendang seat tuh cewek, karena brightness layarnya kan ganggu. Tapi gue ga lakuin, karena gue tau apa yang bakal terjadi. Gue yang bakal dimarahin.

Terus masalah mengucapkan terima kasih, gue ga percaya masih ada aja orang yang punya pikiran kalau “oh itu udah tugas mereka, ngapain lu terima kasihin”, merasa superioritasnya tinggi bahwa mereka-mereka ini level kastanya di bawah mereka. Dude, they’re all human being as well. It’s called appreciation. Yup, apresiasi. Dan (gatau ya) gue rasa bisa dibilang semua orang itu seneng lho dikasih apresiasi sekecil apapun!

Jadi gimana caranya kita ubah pola pikir kita yang semacam ini?


Merantau / Travelling.

Cara terbaik sebenarnya untuk mengubah pola pikir atau mindset kita adalah pertama dengan travelling atau merantau. Kenapa ko merantau?

Jadi buat yang gatau, gue saat ini kerja dan sudah merantau di Malaysia itu hampir 2 tahun saat ini, disini lah gue banyak belajar mengubah pola pikir gue dan cara bertata krama secara sosial. Gue yakin saat ini ada yang bakal bersumpah serapah nyinyir: “yaelah bro, cuma ke Malaysia doang, sok banget”. Gue akan balas itu dengan, well, bahkan dengan “cuma ke Malaysia” aja punya banyak banget hal yang bisa gue pelajarin, jadi gimana ya. :)

Banyak hal yang lo akan dapatkan ketika lo sedang dalam perantauan atau sedang jalan-jalan ke tempat yang ga pernah lu datangi. Karena lu akan bertemu dengan orang baru, budaya, norma atau tata krama yang berbeda. Dan lo akan dapet perspektif baru setelah lo merantau atau travel.

Ya beberapa hal-hal kecil seperti buang sampah kita sendiri di restoran cepet saji atau di bioskop, berdiri di kiri saat di eskalator dan memberikan sisi kanan untuk mereka yang sedang buru-buru, itu termasuk yang gue pelajari dan gue ikuti setelah gue berada di Malaysia.

Kita juga bisa belajar hal baru dan memperluas pengetahuan kita dengan berbicara dengan orang lain. Lo akan dapat perspektif baru bagaimana harusnya bersikap dengan melihat dan merasakan sendiri ketika lo bersosialisasi atau berbaur dengan orang lain.

Sebenarnya ga cuma travelling atau jalan-jalan, bahkan hiking atau wisata alam pun bisa mengubah diri lo. Gue merasakan sendiri hal yang paling gue rasakan adalah itu mengubah ego gue.

Learn from those who travel

Gimana kalo lu gak bisa travel atau merantau? Cara lain ya, dengan belajar dari mereka yang telah travel dan merantau. Baca buku mereka, bertanya, ikuti mereka di social media mereka atau cara apapun itu bisa menjadi cara agar bisa lebih membuka wawasan dan pola pikir lo. Salah satu rekomendasi gue contohnya adalah buku Trinity yaitu Naked Traveller, disitu dia suka menuliskan pengalaman jalan-jalannya. Dan dari situlah kita setidaknya bisa mengambil pelajaran dari sana.

Salah satu rekomendasi lain favorit gue adalah @Pinotski dimana dia sering kali bagiin pengalaman kehidupannya ketika di Kuwait dan NYC di twitternya, yang lagi-lagi bisa merubah pemikiran kita.

Act of Kindness

Sebenarnya intinya dari semua yang gue omongin tadi simplenya permasalahannya adalah ya kita harusnya bersikap selayaknya manusia yang baik gitu. Act of kindness aja sebenarnya. Kesadaran diri, itusih yang penting.

Contohnya I said thanks to the bus drivers, to grab drivers, to the security guard that each day opening the gate portal to my office or my house area, to the waiter/ess, to everyone. Dan mereka senyum, merasa bahagia telah diapresasi, sesimpel itu, cuma 2 kata: Terima Kasih. Sesimpel itu, gak sulit ko, apa susahnya?

Kita seharusnya coba bisa sadar diri, coba lah memposisikan diri lo sebagai mereka. Dan lo akan mengerti. Dan kalo ngomongin agama anggap aja sebagai ibadah, do good and good will come to you.

Gue tau cuma dengan tulisan gue ini ga akan jamin bisa mengubah semua orang karena ga semua orang bisa berfikir seperti itu, tapi setidaknya gue berharap bisa menyuarakan dan beberapa orang bisa tetap mengaplikasikannya. Yuk sebarkan pemikiran seperti ini setidaknya kepada orang terdekat dulu aja, bersikap seperti itu, setidaknya mungkin orang-orang akan sedikit mengikuti. Small acts matter.


Related Post

Ulasan Film Mission Impossible: Fallout. Sequel Terbaik Serial Mission Impossible?

thoughts Read More

Review Film Asal-asalan: Ant-Man & The Wasp. Kemana Ant-Man saat Thanos Menyerang?

thoughts Read More